NUNUKAN – Motif batik khas Nunukan mendapat apresiasi dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Seni Budaya, Sleman Yogyakarta. Dikatakan Drs Toto Sugiarto Arifin salah satu pihak P4TK yang turut melatih puluhan kader batik Nunukan, desain motif para tokoh adat dan masyarakat sangat beragam. Bahkan telah disepakati dengan 5 motif etnis dan 3 warna pokok dan utama yaitu merah, kuning dan hitam.
Dikatakannya, motif yang sudah didesain pun sudah disepakati meski ada tambahan masukan motif yakni pohon “Nunuk” atau beringin, bisa dikomposisikan berbeda. Motif batik khas Nunukan diperkirakan bertambah motif bisa berupa akar, daun atau pohon Nunuk. “Kami sudah mencoba membuat desain berdasar kumpulan dokumen yang ada melalui dinas pariwisata, setelah dipresentasikan dari tokoh adat, ada beberapa masukan terutama tentang warna dan motif. Setelah disepakati motifnya, hak cipta menjadi penting,” kata Drs Toto.
Terlebih batik sudah menjadi world heritage dari Indonesia, sebagai warisan dunia. Namun motif batik yang beragam karya seluruh daerah, salah satunya dihak patenkan dengan langkah dokumentasi. Pasalnya, dokumentasi menjadi langkah awal HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). “Akan masuk ke Dirjen HAKI, dicatatkan bahwa kita sudah mendokumentasikanya. Bahkan saat kita mendaftar pun, karya daerah mulai dilindungi. Tetapi saya pikir dokumentasinya tidak motif per motif juga, tapi bukunya yang diHAKI-kan. Misalnya 1 buku ada 100 motif, semua jadi dipatenkan,” jelasnya kepada Radar Tarakan.
“Batik khas Nunukan yang ada sekarang jenisnya batik cap kombinasi tulis. Tenaga ahli daerah pun sudah 2 kali dilatih dan saya lihat kader batik di Nunukan, antusias sekali. Harapannya, tetap saja karena etnis di Indonesia beribu jumlahnya, akar budaya jangan sampai hilang,” tandas Toto.
Sementara pendidik seni P4TK lainnya Dr AAK Suryahadi M.ED.CA menyatakan apresiasi bahwa Kabupaten Nunukan berjuang menggali dan mengembangkan seni dan budaya, disamping banyak pihak menguasai teknologi. Bagi pria kelahiran Pulau Bali ini, seni merupakan cerminan pribadi. “Sebab kepribadian suatu daerah akan dilihat melalui karya dan seni budayanya. Bagaimana seni batik, seni ukir inilah yang dicari para pendatang ke setiap daerah. Di Pulau Jawa, istilah seni memiliki 3 sifat, sebagai hiburan, tontonan dan tuntunan,” ujar Agung.
Pria yang 38 tahun menetap di Jogjakarta ini mengartikan, 3 warna utama batik khas Nunukan dengan makna berbeda. Diusulkan identik warna hijau, kuning dan hitam lantaran warna tersebut banyak digunakan leluhur terdahulu. “Tentu ada artinya, warna kuning, memiliki makna kemuliaan. Lalu hijau, dimaknai kesuburan dan kesejukan diimplemetasikan ke kehidupan berinteraksi baik dan sejuk ke masyarakat dan dalam dunia pertanian menjadi hijau royo-royo,” bebernya.
“Sedangkan warna hitam memiliki makna kebijaksanaan. Sehingga diharapkan kedepan, semua makna itu sebagai tuntunan yang menjadi tatanan di masyarakat. Disatukan menjadi satu motif yang memiliki arti. Seni itu tidak hanya enak dipandang tetapi memiliki makna tuntunan manusia,” pungkas Agung. (dta)
Kamis, 15 Desember 2011
Batik Nunukan Segera Masuk Dokumen HAKI
Berciri 5 etnis dan 3 warna utama
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar